Featured

Responsibility

Tanggung jawab, tulisan saya kali ini akan sedikit membahas tentang kata tersebut. Beberapa waktu lalu saya melihat sebuat drama Korea (fans drakor :D), setting drama tersebut adalah sekolah, menceritakan seputar kehidupan sekolah menengah akhir, mungkin setara SMA di Indonesia. Pada film tersebut siswa yang beragam bentuknya ada, dari mulai yang rajin, kalem, anteng, unyu-unyu, hyper actif, loncat sana-sini, dan apalah-apalah lainnya, yang bisa bikin guru senyum bangga dan kadang juga bikin elus dada.

Pada satu salah satu scenenya, diceritakan sekelompok siswa yang sering berurusan dengan bagian ketertiban sekolah dan juga aparat kepolisian setempat karena tingkah hyper actif mereka, saya katakan hyper actif karena menurut saya tidak siswa “nakal” di sekolah. Karena tingkah mereka, sang wali kelas sering dipanggil sebagai wali mereka ketika di kantor kepolisian, tak jarang pula sang wali kelas tersebut berlarian tengah malam untuk bertanggung jawab atas tingkah anak didiknya. Lalu, orang tua mereka di mana, kenapa harus gurunya? saya juga tak tahu karena scenenya tidak menceritakan itu. Hihii.

Hal tersebutlah yang ingin saya share kali ini, tanggung jawab, bahwa anak menjadi tanggung jawab siapa ketika mereka mulai bertingkah aneh-aneh? Orang tua? Guru?. Teringat ucapan Bapak saya ketika itu, beliau berkata seorang murid merupakan tanggung jawab dari orang tua dan gurunya. Ketika mereka mulai bertingkah di luar batas wajarnya, maka orang  pertama yang perlu dimintai pertanggung jawaban adalah orang tua, dan yang berikutnya adalah gurunya. Begitu kira-kira ucapan Bapak saya ketika itu.

Dalam proses tumbuh kembang sang anak, kedua komponen ini tidak dapat dipisahkan. Orang tua dan guru menjadi tempat mereka berangkat dan kembali. Orang tua adalah guru dan guru juga merupakan orang tua bagi anak-anak didik meraka. Ketika di rumah orang tua bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pendidikan si anak, dan ketika di sekolah guru menjadi orang tua mereka. Sebagai calon orang tua dan guru, sudahkah kita mempersiapkan diri untuk menjadi teladan nantinya? Yuk, sama-sama belajar ya gaeess.

*maafkeun jika kepanjangan

*selamat membaca

*terima kasih yang telah meninggal komentar :))

Advertisements

Akhir Pekan

Apakah teman baru di lingkungan kerja, kuliah atau organisasi Anda menawarkan beberapa tempat wisata untuk liburan nanti? Indonesia memang kaya akan alam yang mungkin tak akan habis waktu untuk menikmati secara keseluruhan. Beberapa wisata laut di daerah selatan bagian kota Malang contohnya, saya baru menjamah tujuh pantai dan masih menyisakan pantai-pantai lainnya. Tapi bukan pantai, gunung atau tempat wisata lainnya yang ingin saya ceritakan disini, pernahkah dalam benak Anda terfikir untuk melakukan hal-hal seperti di bawah ini?

MEMANJAKAN DIRI

image
Doc. http://imprintpilates.com/massage/

Terkesan feminim ya, namun beberapa beban weekday bisa kita atasi dengan sedikit menekan atau memijat di bagian kepala, kaki dan lengan. Bagian-bagian tubuh tertentu yang sering Anda pergunakan memerlukan relaksasi guna peregangan otot dan saluran darah. Adapun spa, lulur dan perawatan lainnya yang menambahkan bahan wewangian dapat menjadi pilihan lainnya terlebih kaum hawa. Aroma terapi yang diberikan menambah kenyamanan dan ketenangan tersendiri bagi otak Anda.

Memasak

image
Doc. Pribadi

Beberapa rumah makan mampu memberikan kesan tersendiri baik rasa ataupun suasana rumah makan tersebut. Namun, apakah Anda berhenti cukup mengagumi makanan tersebut? Cobalah untuk mencatat apa saja yang dapat Anda terima saat mencicipi masakan tersebut, rasa manis, gurih atau pedas yang lebih mereka unggulkan. Akan lebih baik jika Anda mengetahui nama masakan tersebut lalu berbegas pada gadget Anda untuk kepo baik bahan dan cara membuatnya. Pertajam ingatan Anda akan rasa unggulan pada masakan tersebut, karena resep hanya memberikan 80% informasi selebihnya ialah kemampuan Anda dalam menganalisa. Lakukan kegiatan dengan orang-orang terkasih baik dalam proses pengadaan bahan-bahan ataupun proses pengolahan. Tetapkan pula siapa yang akan Anda ajak turut serta dalam menikmati masakan Anda. Hal yang terakhir ini menentukan seberapa antusias Anda dalam memasak.

Menata Ulang Kamar

image

Buku-buku, kertas, komputer atau beberapa baju masih tak terlalu nyaman untuk dilihat atau digunakan kembali esok hari? Coba tengok beberapa majalah desain interior atau tayangan renovasi rumah di televisi. Baiknya Anda memilah barang-barang yang tak layak digunakan atau dapat dimanfaatkan orang lain. Andapun dapat pula menemukan hal-hal yang berkesan dalam kotak penyimpan barang Anda dan seketika Anda mengingat hal tersebut. Foto atau dokumentasi lainnya yang berkesan tersebut dapat menjadi pilihan guna menambah riasan pada dinding atau meja kerja Anda. Majalah atau kertas dengan ketebalan tertentu yang layak digunakan dapat pula Anda kreasikan sebagai wadah perhiasan, alat tulis bahkan hiasan berbentuk bunga, hewan atau bintang yang semakin menambah koleksi hiasan di kamar Anda. Berikan banyak ruang pada meja kerja Anda lebih dari luas ruang bebas sebelumnya. Anda akan lebih membutuhkan ruang tersebut untuk meletakkan gelas, piring atau topless sebagai teman kerja Anda nantinya.

Kembali ke Kampung Halaman

Bagi Anda warga perantauan, liburan yang satu ini jangan sampai terlewatkan. Sejenak berfikirlah beberapa permasalahan Anda di kota besar sana mampu teratasi dengan berduduk santai bersama orang tua. Buatlah suasana akrab sembari menonton televisi dan Anda buat pola sebab akibat pada permasalahan yang Anda alami. Perhatikan pesan-pesan yang beliau sampaikan, meski terkesan sederhana, namun seringnya hal tersebut tidak kita perhatikan dalam menghadapi pelbagai permasalahan. Jangan terlalu larut dalam suasana serius, sampaikan seperlunya dan hindari timbulnya kecemasan pada benak orang tua Anda. Sediakan waktu untuk mengajak beliau menikmati makan malam, berwisata alam atau hanya menemani berbelanja di pasar tradisional sekalipun. Rekam dengan baik setiap waktu yang ada dan jangan lewatkan mendokumentasikan hal tersebut. sesampainya di tempat perantauan nanti, gunakan foto tersebut sebagai wallpaper gadget Anda, maka timbullah semangat tersediri dalam menjalani hari-hari ke depan.
Beberapa kegiatan di atas, rutin saya lakukan dalam menikmati akhir pekan saya. Anda memiliki cara yang berbeda? Tuangkan dalam tulisan, berceritalah. 

Hal-hal tak terlupakan saat sekolah dasar

Seharian ini (3/3) saya dan beberapa rekan sekolah dasar menghadiri acara pernikahan salah satu rekan kami. Tak hanya menghadiri acara tersebut, beberapa memori kami tentang segala hal saat kami SD dulu coba kami pancing sebagai bahasan kemudian. Mungkin ada pengalaman yang sama, karena era SD saya dulu tahun 1999-2005 masih minim adanya gadget, sinetron striping yang menggambarkan kisah cinta anak-anak sekolah dan peran guru sangat berarti bagi kami. Berikut hal-hal yang kami coba ingat sore ini :

1. Permainan kami membuahkan keringat, mengolah emosi dan kekompakan

image
Doc. https://indonesiantraditionalgames.files.wordpress.com/2012/05/bentengan2.jpg

Bentengan, sepak bola, kasti, lompat tali adalah sedikit dari berbagai permainan kelompok yang sering kita lakukan, entah sebagai penghilang jenuh setelah pelajaran sekolah, maupun saat pelajaran olahraga berlangsung. Sekolah kami memiliki lokasi yang sejajar bahkan satu halaman dengan dua sekolah dasar lainnya. Pertandingan sepakbola antar sekolah tak arang membuat kami harus mengerahkan beberapa pukulan akibat curangnya permainan sekolah lainnya. Aktivitas lari pagipun menjadi rutinitas yang kami tunggu-tunggu, karena dari sana kami dapat melihat siapa aja yang mampu menlampaui garis finish terlebih dahulu dan sebaliknya. Seringkali mereka yang sampai garis finish terlebih dahulu membusungkan dada dan mengolok-olok rekan lainnya yang tertinggal.

2. Penggaris panjang kayu sering kali menyapa tangan dan kaki.

Sudah bukan rahasia, kuku panjang, kaos kaki kotor, sepatu berwarna menjadi sebab guru-guru kami mendaratkan pukulan pada tangan atau kaki kami. Kegiatan pembiasaan ini sering dilakukan terlebih dihari senin. Tak hafal negara eropa? Sungai dan gunung di Asia? Butir-butir pancasila? Bersiaplah untuk menerima hukuman yang sama bahkan keesokan harus menambah kuantitas hafalan harian. Zaman kami dahulu masih penuh akan doktrinasi seorang guru, mungkin anak-anak sekarang lebih mengenalnya sebagai sosok guru yang killer, namun mereka-merekalah yang mengajarkan kami bahwa sebagai lembaga pendidikan awal, penanaman moral kepada orang tua dan membiasakan diri dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi akan memberikan dampak yang baik ke depannya. Letih fisik dan mental tak menjadi masalah karena sudah terbiasa sejak dini.

3. Samroh, drama, paduan suara, PMI atau pramuka, semuanya menyenangkan.
Bak cinderella, kelenting kuning ialah sosok yang akhirnya dipilih ande-ande lumut untuk menemani hidupnya. Drama tersebut telah mengisi waktu sore saya dan beberapa rekan saya guna pertunjukan perpisahan kelas 6 tahun 2004 silam. Hal lain ialah paduan suara, perlombaan tingkat kota hingga provinsi menjadi terindah semasa saya SD dulu. Menari sepanjang jalan kota Banyuwangi sembari melontarkan bait demi bait lagu “ole olang, para ona ala jere” sangatlah menyenangkan meski harus mendulang kesedihan akibat gagal memeperoleh predikat ditingkatan tersebut. Perjusami atau perkemahaan jum’at, sabtu dan minggupun ialah hal yang kami tunggu-tunggu. Bagaimana tidak, bercengkrama dengan rekan di bawah tenda atau langit telanjang sekalipun, berkomunikasi dengan sandi morse, jerit malam, jagung bakar dan lagu-lagu masa kanak-kanak dulu masih menjadi alasan mengapa pramuka wajib dan perlu direvitalisasi sebagai bentuk pengolahan jiwa dan fisik generasi muda.

image
Doc. Pribadi

Satu lagi, selain paduan suara, lantunan pujian-pujian kepada Allah yang diiringi tabuhan gendang dan alat pendukung lainnya menjadi salah satu idola saat saya SD dulu. Kami mengenalnya dengan samroh atau khosidahan. Apa kalian pernah menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan asik di atas?

4. Kami masih gagap tekhnologi.
Zaman kami masih minim adanya handphone, kehadiran teman secara fisik ialah hiburan kami yang sesungguhnya. Jarang sekali saya menemukan rekan saya SD dulu sibuk akan masalah percintaan, tak seperti zaman sekarang. Hiburan kami ialah wisata alam di desa setempat kami, sepeda kami kayuh sejauh mungkin, semampu kami mengayuh, itulah batas kebahagiaan kami untuk hari itu. Berangkat sekolah bersamaan, les atau bimbingan tambahan kami juga mengusahakan untuk hadir bersamaan. Masa-masa classmeeting kami isi dengan bermain congklak, gundu (kelereng), bola dari kertas dan lainnya yang sudah kami persiapkan dari rumah pada malam sebelumnya.

Entah mengapa, SD memberikan banyak sekali kenangan indah, saat-saat permasalahan terbesar ialah tertinggalnya buku PR di rumah, PR tidak dikerjakan, mengerjakan soal di papan tulis, negara-negara Afrika yang sulit diingat atau mengarang puisi dalam bahasa daerah. Ini kisahku, mana kisahmu?

Tengok Pasarku, Pasar Tradisional

image
Doc. Pribadi , Lokasi : Pasar Lawang

Pernah masuk ke areal ini? Minimal tengoklah ke salah satu lokasi favorit ibu-ibu. Yap, pasar tradisional. Saya bisa menjadi orang lain ketika memasuki areal berbelanja yang satu ini. Beberapa pengalaman yang bisa saya ceritakan mengenai pasar tradisional ialah

1. Harganya fluktuatif, tergantung Kita!
Pengalaman memang diperlukan dalam setiap kegiatan kita sehari-hari, termasuk dalam hal berbelanja. Tawar menawar harus dilakukan untuk mendapatkan harga yang sesuai dengan kualitas barang tsb. Beberapa trik untuk melakukan lobbying ialah menyodorkan 1/2 dari harga asal, tingkatkan perlahan hingga sekiranya didapati harga yang sesuai. Saya sering mendapatkan dua barang sekaligus denhan harga awal yang diberikan penjual. Trik lain dari ibu saya, tinggalkan penjual jika harga awal tetap dipertahankan penjual tsb. Biasanya sih, dal hitungan detik penjual akan memanggil kita untuk memberikan kesempatan terakhir guna mencapai mufakat.

2. Keragaman Kualitas Barang
Pilih yang KW 1, KW 2 atau super KW, pasar tradisional menyediakan sesuai kapasitas kantong kita. Ini yang membuat saya sering berkunjung ke pasar tradisional disaat krisis kantong melanda.

3. Butuh Apa Saja? Kami Sedia.
Untuk yang satu ini, mungkin hanya sebagian besar yang pernah melakukan di pasar tradisional. Berkeliling dan tawar menawar yang kita lakukan lebih dari setengah jam cukup menguras tenaga, sehingga jajanan tradisional seperti keripik pisang, lupis, jenang atau dodol, kue bolu kukus dan lainnya bisa menjadi pilihan. Sekali lagi, harga yang bervariasi menjadi kenyamanan tersendiri bagi kantong kita. Tak arang makanan berat seperti soto khas daerah, pecel bahkan satai bisa kita jumpai dan rasanya nggak kalah nikmat. Tak hanya tangan yang aman telah menggenggam berbagai barang belanjaan, perut juga aman.

Nah mungkin masih banyak pengalaman pribadi lainnya mengenai pasar tradisional. Bagi kalian-kalian yang belum pernah ke pasar tradisional terdekat, jangan gengsi, malu dsb, buang semuanya dan nikmati sensasi berbelanjanya. Tapi perlu diingat, berbelanjalah dengan bijak, meski beberapa barang bisa didapatkan dengan harga miring, berbelanjalah sesuai kebutuhan.

Salam hangat!

Ayo Ngobrol dengan Orang Asing.

image

Every People that we meet is important

Ini adalah kutipan yang saya dapat ketika menonton video di Youtube, video speech dari mantan putri Indonesia di TEDx Brawijaya di Universitas Brawijaya Malang. (Cari sendiri saja, kouta saya sedang tipis males ngecek :p)

Saya jadi teringat fenomena yang sering saya temui bahkan mungkin saya alami sendiri. Di dunia yang serba digital ini, kita sudah jarang berbica dengan orang asing yang kita temui misal di kendaraan umum atai ketika ada orang yang duduk di samping kita saat kita ada di tempat umum seperti taman. Jangankan dengan orang asing, dengan teman sendiri ketika sedang nongkrong saja banyak diantara kita yang sibuk sendiri dengan gadget masing-masing. Bahkan ketika saya membuat tulisan ini, saya sedang di rumah berkumpul dengan keluarga paman saya nyeletuk jaman sekarang di warung kopi jaman sekarang seperti ini (semua yang sedang berkumpul dengan gadget).

Padahal orang asing tersebut bisa jadi bisa menjadi pintu gerbang menuju kesuksesan kita. Mungkin orang kita temui adalah client bisnis kita di masa depan. Atau bisa saja ketika kita ada masalah orang asing yang kita temui adalah “malaikat” yang Tuhan kirimkan menyelesaikan masalah kita. Banyak sekali cerita yang telah membuktikan orang asing ditemui seseorang menjadi pintu rejeki atau jalan keluar sebuah masalah.

Di luar itu, berbicara adalah salah satu cara berkomunikasi dan bersilaturahmi baik dengan orang yang sudah kenal atau yang belum dikenal. Anak muda jaman sekarang jarang mau basa-basi dan lebih sibuk dengan gadget. Ada yang merasa aneh jika ada orang asing yang mengajak berbicara dianggap aneh. Apalagi jika seumuran dan beda jenis kelamin sering dibilang “modus”.
Mungkin kita harus belajar lagi bagaimana belajar ngobrol dengan orang asing yang kita temui untuk menambah networking dan juga silaturahmi.

Bagaimana dengan kamu? Berapa orang asing yang temui di kendaaran atau tempat umum menjadi network baru mu? Atau kamu juga adalah orang yang yang diam-diaman jika bertemu orang?

Mungkingkah kita harus membentuk komunitas yang kegiatan mingguannya pergi dengan kendaraan umum atau pergi ke tempat umum, lalu harus bertemu orang baru untuk diajak bicara dan menjadi kenalan? Aah saya rasa belom perlu.. kita mulai saja dari sendiri saja. Letakkan gadget saat ngumpul dengan teman atau keluarga. 🙂

Sumber gambar: Youtube.com

Yuk mari berkreasi Bakpao !

Happy weekend, untuk sebagain kaum hawa, mengkreasikan diri dalam mengolah bahan-bahan seperti tepung, telur, fermipan, margarin atau mentega bukanlah perkara mudah. Siapa bilang? Intip resep kue yang satu ini yuk, dijamin berhasil 😊

BAHAN-BAHAN :
1/2 kg tepung terigu segitiga biru (protein rendah)
1/2 ons mentega putih
1 sdt fermipan
Air secukupnya
50 gr gula pasir
Garam secukupnya
Bahan isian (keju parut, coklat atau irisan ayam yang telah dibumbui)

CARA MEMBUAT :
Pertama-tama campur tepung terigu, fermipan, gula pasir dan garam, aduk hingga merata ya.
Tambahkan air sedikit demi sedikit hingga hampir kalis.
Tambahkan mentega, uleni lagi hingga kalis, bila dirasa belum cukup kalis, bisa ditambahkan air sedikit.
Diamkan selama 30 menit sambil ditutup dengan kain.
Ambil adonan sebanyak +/- 30gr, bulat-bulatkan lalu pipihkan, dan tambahkan bahan isian.
Bulatkan kembali dan letakkan di atas daun pisang atau kertas minyak.
Kukus selama 15 menit, dan sajikan selagi hangat.

image
Doc Pribadi

Doc : Pribadi

Kata Siapa Minat Baca Kita Rendah?

Orang Indonesia malas baca? Kata siapa? Tidak kok.

 

Saat saya lulus kuliah, saya kembali ke rumah saya di Banten. Di sini, saya pun ingin tetap menjadi penggiat literasi seperti di Malang. Saat ini, saya sedang mengikuti sebuah komunitas bernama Smart Student Indonesia yang salah satu fokus kegiatannya adalah mengajak membaca dan mendirikan perpustakaan di berbagai daerah hingga pelosok Banten.

 

Saya sering mendengar komentar orang tentang minat baca di Banten yang rendah. Seperti saat saya bertanya kepada ibu saya tentang kenapa jarang ada pedagang koran di Pandeglang.

 

Beliau menjawab, “Susah jualan koran di sini. Sedikit pelanggannya. Kan minat baca orang sini rendah. Ibu pernah langganan koran, tapi datangnya lambat, sekitar jam 9 ato jam 10. Atuh itu mah udah kadaluarsa. Keduluan sama berita di internet dan tipi. Jadi, mending berhenti.”

 

Atau ketika saya bercerita kepada teteh saya tentang ide saya dan teman-teman volunteer Smart Student Indonesia untuk membuat perpustakaan di daerah pelosok di Banten, beliau menjawab:

 

“Susah di kampung mah. Orang-orang belum akrab sama baca tulis. Mending langsung aja beri pelatihan yang langsung ada hasilnya. Anak-anak juga hobinya main dan mancing saja.”

 

Tapi saat saya mengajar di sebuah sekolah, saya malah terkagum-kagum waktu saya menanyai hobi siswa satu per satu, mereka menjawab hobi mereka adalah membaca buku.

 

Mereka tidak berbohong kepada saya tentang hobi mereka. Terbukti dengan perpustakaan sekolah yang selalu ramai dikunjungi. Jika istirahat, mereka langsung memilih buku untuk dibaca. Bahkan pagi-pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai pun, mereka sering meminta agar perpustakaan dibuka.

 

Sayang sekali kegemaran membaca seperti itu kurang didukung dengan baik. Buku-buku tidak boleh dibawa pulang, karena katanya anak-anak tidak rajin menjaganya, sering tidak dikembalikan, dirobek, basah, atau dipakai bungkus kacang oleh orang tuanya. Padahal, jika dibawa ke rumah, siswa memiliki waktu yang lebih banyak untuk membacanya.

 

Di sekolah pun ada saja guru yang melarang anak-anak bermain di perpustakaan, karena katanya anak-anak sering membuat berantakan perpustakaan.

 

Tidak hanya murid di sekolah, adik-adik yang belajar bahasa Inggris di rumah saya pun tidak kalah hobi bacanya. Mereka sering berebut buku di rak saya untuk dibaca. Mereka berebut karena di rak saya tidak banyak buku untuk anak-anak, seperti dongeng dan lainnya.

 

Teman saya di daerah lain di Banten pun menceritakan hal yang sama di grup WA: anak-anak gemar membaca, yang membuat mereka tidak membaca adalah karena tidak ada bukunya.

 

Melihat hal tersebut, saya malah berani menyimpulkan, anak-anak kampung berpotensi menjadi kutu buku. Karena, di kampung masih jarang anak yang main gejet dan saingan-saingan buku lainnya. Di saung sawah baca buku, di atas pohon saheri (apa kali namanya di daerah kalian) baca buku, di pinggir kali baca buku.

 

Jadi, kenapa minat baca negara kita (katanya) rendah? Itu karena pembiasaan jarang bertemu buku sejak kecil.

 

Teruslah membaca. Teruslah mengajak membaca. Teruslah berbagi. Teruslah bermimpi. Pokoknya keeeeeeppppppp, bagi-bagi buku! ^^